4. BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Beriman kepada para rasul, yaitu membenarkan dengan hati yang mantap bahwa Allah SWT telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (utusan) yang mengajak mereka hanya beribadah/menyembah kepada Allah SWT saja dan kufur dengan apa-apa yang disembah selain-Nya. Dan sesungguhnya mereka semua adalah utusan yang benar, dan telah menyampaikan semua risalah yang diutus Allah SWT kepada mereka. Di antara mereka ada yang Allah SWT memberitahukan namanya dan ada yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

Pendidikan para nabi dan para pengikut mereka:

Allah SWT mendidik para nabi dan pengikut-pengikut mereka agar pertama-tama mereka bersungguh-sungguh (berusaha) atas diri mereka untuk mendapatkan iman dengan ibadah, membersihkan diri, berpikir, tafakkur, sabar dan berkorban dengan segala sesuatu untuk agama, mengeluarkan dan meninggalkan untuk meninggikan kalimah Allah SWT sampai sempurna iman di dalam kehidupan mereka. Dan datang keimanan di dalam hati mereka bahwa Allah SWT pencipta segala sesuatu, di Tangan-Nya segala sesuatu. Hanya Dia SWT yang berhak disembah. Kemudian mereka berusaha (bersungguh-sungguh) memelihara iman dengan lingkungan yang shaleh, seperti masjid yang diramaikan dengan iman dan amal-amal shaleh.

Kemudian mereka berusaha untuk menunaikan kebutuhan agama dan kebutuhan mereka dengan cara mengambil faedah dari iman. Maka mereka meyakini bahwa Allah SWT bersama mereka di mana saja mereka berada, menolong, memberi rizqi, dan mendukung mereka, seperti terjadi pertolongan bagi kaum muslimin di Perang Badar, penaklukan Kota Makkah, Perang Hunain, dan selainnya. Mereka bertawakkal (berserah diri) kepada-Nya dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya SWT. Kemudian mereka berusaha menyebarkan iman di antara kaum mereka, dan orang-orang yang mereka diutus kepadanya agar mereka hanya menyembah Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, mengajarkan hukum-hukum-Nya, dan membaca kepada mereka ayat-ayat Rabb mereka. Firman Allah SWT:


Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Demikianlah karunia Allah SWT, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah SWTmempunyai karunia yang bersar. (QS. Al-Jum’ah:2-4)

Rasul, yaitu orang yang diberi wahyu oleh Allah SWT dengan syari’at dan diperintah-Nya untuk menyampaikan syari’at itu kepada orang yang tidak mengetahuinya atau orang yang mengetahui tentang syariat itu tetapi tidak mau melaksanakannya.

Nabi: Yaitu orang yang diberi wahyu oleh Allah SWT dengan syari’at yang terdahulu untuk memberi tahu kepada orang-orang yang berada di sekitarnya dari para penganut syari’at tersebut dan memperbaharuinya. Setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya.

Pengutusan para nabi dan rasul:

Setiap umat tidak pernah kosong dari seorang rasul yang diutus Allah SWT dengan syari’at tersendiri kepada kaumnya atau seorang nabi yang diberikan wahyu kepadanya dengan syari’at sebelumnya agar ia memperbaharuinya.

1. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thagut itu… (QS. An-Nahl:36)

2, Firman Allah SWT:


Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah SWT, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka (QS. Al-Ma`idah:44)

Jumlah para nabi dan rasul:

Para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salaam sangat banyak jumlahnya.

1. Di antara mereka ada yang dijelaskan Allah SWT nama-nama mereka di dalam al-Qur`an dan menceritakan kepada kita berita-berita mereka. Mereka berjumlah 25 orang.

1. Adam a.s; Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (QS. Thaha:115)

2. Allah SWT berfirman menyebutkan sebagian nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya:


Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahaya, ‘Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh, dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-Nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah SWT yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah SWT, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. (QS. Al-An’aam:83-89)

3. Idris a.s, firman Allah SWT:


Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang di sebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi SAW. (QS. Maryam:56)

4. Hud a.s, firman Allah SWT:


Kaum Aad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. (QS. Asy-Syu’ara`:123-125)

 

5. Shaleh a.s, firman Allah SWT:


Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kapada mereka: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. (QS. Asy-Syu’araa`:141-143)

6. Syu’aib a.s, firman Allah SWT:


Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. (QS. Asy-Syu’araa`:172-178)

 

7. Dzulkifli, firman Allah SWT:


Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik (QS. Shaad:48)

8. Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT:


Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzaab:40)

2. Di antara para nabi dan rasul, ada yang tidak kita ketahui nama-nama mereka dan Allah SWT tidak menceritakan kepada kita tentang berita mereka, maka kita beriman kepada mereka secara umum.

1. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Ghafir:78)

2. Dari Abu Umamah r.a, ia berkata: “Abu Dzarr r.a, berkata: ‘Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah SAW, berapakah sempurnanya bilangan para Nabi SAW?” Beliau bersabda: 124.000, dari mereka ada 315 rasul. Jumlah yang banyak sekali.” HR. Ahmad dan ath-Thabrani. (Shahih li ghairih. HR. Ahmad no 22644, dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir 8/217. lihat: ash-Shahihah no. 2668)

Ulul ‘Azmi dari para rasul:

Ulul ‘Azmi dari para rasul ada lima orang dan mereka adalah: Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s, Isa a.s, dan Muhammad SAW. Allah SWT telah menyebutkan mereka dengan firman-Nya:


Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya….. (QS. Asy-Syura:13)

Rasul pertama:

Agama para nabi dan rasul adalah satu dan syari’at mereka berbeda-beda. Yang pertama memberi kabar gembira tentang yang terakhir dari mereka dan beriman dengannya, dan yang terakhir membenarkan yang pertama dan beriman dengannya.

Rasul yang pertama kali adalah Nuh:

1. Firman Allah SWT:


Dan (ingatlah), ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah SWT berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu” Mereka menjawab:”Kami mengakui”. Allah SWT berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi SAW) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali Imran:81)

2. Firman Allah SWT:


Sesungguhnya Kami telah mamberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi SAW yang kemudiannya. (QS. An-Nisaa`:163)

3. Dari Abu Hurairah r.a dalam hadits syafa’at, dan di dalamnya bahwa Nabi SAW bersabda: “Pergilah kepada Nuh, lalu mereka datang kepada Nuh, lalu mereka berkata: ‘Hai Nuh, engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi…” Muttafaqun ‘alaih. (Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no 3340 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 194)

Rasul terakhir:

Rasul terakhir adalah Muhammad SAW. Firman Allah SWT:


Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi SAW. Dan adalah Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzaab: 40)

Kepada siapa Allah SWT mengutus para nabi dan rasul

1. Allah SWT mengutus para nabi dan rasul khusus hanya kepada kaum mereka, seperti firman Allah SWT:


dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (QS. Ar-Ra’ad:7)

2. Allah SWT mengutus Muhammad SAW kepada semua umat manusia. Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, dan yang paling utama. Beliau adalah pemimpin keturunan Adam dan pembawa bendera al-hamd (pujian) pada hari kiamat, dan Allah SWT mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam.

1. Firman Allah SWT:


Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba`:28)

2. Firman Allah SWT:


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiyaa`:107)

Hikmah diutusnya para nabi dan rasul:

1. Mengajak manusia kepada menyembah Allah SWT saja dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thagut itu”,… (QS. An-Nahl :36)

2. Menjelaskan jalan yang menyampaikan kepada Allah SWT:


Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Jum’ah:2)

3. Menjelaskan kondisi manusia setelah sampai kepada Rabb mereka pada Hari Kiamat. Firman Allah SWT:


Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu”. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka. (QS. 22:49-51)

4. Mendirikan hujjah kepada manusia. Sebagaimana firman Allah SWT:


(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah SWT sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (QS. An-Nisaa`: 165)

5. Rahmat, sebagaimana firman Allah SWT:


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiyaa`:107)

Sifat para nabi dan rasul:

1. Semua nabi dan rasul adalah laki-laki dari golongan manusia. Allah SWT telah memilih dan menentukan serta menyaring mereka dari semua hamba-Nya. Dia memberi kelebihan kepada mereka dengan nubuwah dan risalah. Memperkuat mereka dengan mu’jizat. Memberi kemuliaan kepada mereka dengan risalah, membebani mereka dengannya, dan menyuruh mereka menyampaikan risalah tersebut kepada manusia agar mereka menyembah Allah SWT saja dan meninggalkan penyembahan selain-Nya, dan Dia menjanjikan kepada mereka surga atas hal itu. Sungguh mereka -‘alahimush shalatu was salam- telah berbuat jujur dan menyampaikan.

1. Firman Allah SWT:


Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl:43)

2. Firman Allah SWT:


Sesungguhnya Allah SWT telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (QS. Ali ‘Imran33)

3. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thagut itu”, … (QS. An-Nahl :36)

2. Allah SWT menyuruh kepada semua nabi dan rasul agar berdakwah kepada Allah SWT, menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Dia menentukan syari’at bagi setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana firman Allah SWT:


Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. …, (QS. Al-Maidah :48)

3. Ketika Allah SWT memilih para nabi dan rasul, Dia memberi sifat kepada mereka dengan ubudiyah (penghambaan) kepada-Nya pada tingkatan tertinggi, sebagaimana Dia katakan tentang Muhammad pada maqam tanzil:


Maha Suci Allah SWT yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al-Furqaan:1)

Dan Dia berfirman pada Nabi Isa bin Maryam a.s:


Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah SWT) untuk Bani Israil. (QS. Az-Zukhruf:59)

4. Sesungguhnya semua nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah manusia yang diciptakan, mereka makan dan minum, lupa, tidur, bisa sakit dan akan meninggal dunia. Mereka tidak berbeda dengan manusia lainnya, tidak mempunyai sedikitpun dari sifat-sifat rububiyah dan uluhiyah. Mereka tidak bisa memberi manfaat dan bahaya kepada seseorang kecuali apa yang telah dikehendaki oleh Allah SWT. Tidak mempunyai sedikit pun dari khazanah (perbendaharaan) Allah SWT. Tidak mengetahui yang gaib kecuali apa-apa yang diperlihatkan Allah SWT kepada mereka.

Firman Allah SWT kepada Nabi-Nya Muhammad SAW:


Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah SWT. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raaf:188)

Keistimewaan Para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam:

Para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah manusia paling suci hatinya, paling cerdas akalnya, paling benar imannya, paling baik akhlaknya, paling sempurna agamanya, paling kuat ubudiyahnya, paling sempurna tubuhnya, dan paling tampan rupanya. Dan Allah SWT telah mengkhususkan mereka dengan beberapa keistimewaan, yang terpenting adalah:

1. Allah SWT telah memilih mereka dengan wahyu dan risalah.

1. Firman Allah SWT:


Allah SWT memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia: …(QS. Al-Hajj:75)

2. Firman Allah SWT:


Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah (Tuhan) kamu itu adalah Ilah (Tuhan) Yang Esa”. (QS. Al-Kahfi:110)

2. Sesungguhnya mereka dipelihara dari kesalahan pada apa-apa yang mereka sampaikan kepada manusia yaitu aqidah dan hukum. Jikalau mereka keliru, maka Allah SWT meluruskan mereka kepada yang haq dan benar.

Firman Allah SWT:


Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (QS. 53:1-5)

3. Sesungguhnya mereka tidak bisa diwarisi setelah kematian mereka.

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan menjadi sedakah.’ Muttafun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 6730 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 1757)

4. Mata mereka tidur dan hati mereka tidak tidur.

Dari Anas bin Malik r.a dalam cerita Isra`: “Dan Nabi SAW tidur kedua matanya tetapi tidak tidur hatinya. Demikian pula para nabi, mata mereka tidur tapi hati mereka tidak tidur.” HR. al-Bukhari. (HR. al-Bukhari no. 3570)

5. Sesungguhnya mereka diberi pilihan di antara dunia dan akhirat saat akan meninggal dunia.

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada seorang nabi yang sakit kecuali diberi pilihan antara dunia dan akhirat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no 4586 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2444)

6. Mereka dikuburkan di tempat mereka meninggal dunia.

Dari Abu Bakar r.a, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak akan dikuburkan seorang nabi kecuali di tempat ia meninggal dunia” HR. Ahmad. (Shahih. HR. Ahmad no. 27. lihat Shahih al-Jami’ no. 5201)

7. Bumi tidak dapat memakan jasad mereka.

Dari Aus bin Aus r.a, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya hari terbaik kamu adalah hari Jum’at…’ dan dalam hadits ini: ‘mereka bertanya: ‘Hai Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur?’ Mereka mengatakan: engkau telah hancur. Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan jasad para Nabi kepada bumi.” HR. Abu Daud. (Shahih. HR. Abu Daud no 1047, Shahih Sunan Abu Daud no. 925)

8. Mereka tetap hidup di kubur mereka dan melakukan shalat.

1. Dari Anas r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Para Nabi SAW tetap hidup di kubur mereka, melaksanakan shalat.’ HR. Abu Ya’la. (HR. Abu Ya’la no 3425. lihat: as-Silsilah al-Ahadits Shahihah no. 621)

2, Dari Anas r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku melewati Musa a.s pada malam aku diisra`kan di sisi tumpukan pasir merah sedang shalat di dalam kuburnya.” HR. Muslim. (HR. Muslim no. 2375)

9. Istri-istri mereka tidak boleh dikawini setelah mereka.

Firman Allah SWT:


Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah SWT. (QS. Al-Ahzaab:53)

Wajib beriman kepada semua nabi dan rasul. Barang siapa kafir kepada salah seorang dari mereka, berarti dia kafir kepada semuanya. Wajib membenarkan apa-apa yang shahih dari mereka yaitu berita-berita mereka, mengikuti mereka dalam kebenaran iman, sempurna tauhid dan akhlak yang baik. Dan wajib mengamalkan syari’at nabi yang diutus kepada kita dari mereka, yaitu penutup dan sebaik-baik yang diutus kepada semua manusia dan alam semesta, yaitu Muhammad SAW.

Firman Allah SWT:


Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah SWT turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah SWT turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa`:136)

Manfaat beriman kepada para nabi dan rasul:

Mengenal rahmat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada manusia. Di mana Dia SWT mengutus para rasul kepada manusia yang memberi petunjuk untuk menyembah Rabb, dan bagaimana manusia menyembah-Nya.

Di antaranya: Memuji Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini.

Di antaranya: Mencintai rasul dan memuji mereka tanpa berlebihan; karena mereka adalah utusan-utusan Allah SWT, beribadah kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya, dan memberi nasihat kepada hamba-hamba-Nya.

MUHAMMAD

Nasab dan pertumbuhannya:

Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Dilahirkan di Mekkah pada tahun gajah, bertepatan tahun 570 M. Bapaknya Abdullah meninggal dunia sedangkan beliau masih berada di perut ibunya. Tatkala dilahirkan beliau dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Ibunya meninggal dunia, beliau baru berusia enam tahun. Tatkala kakeknya meninggal dunia, beliau dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib.

Beliau SAW hidup dengan akhlak yang agung, perilaku yang baik. Sehingga kaumnya memberi gelar al-Amin (yang terpercaya) kepadanya. Di usia empat puluh tahun, Muhammad menjadi Nabi SAW, tatkala datang al-Haqq kepadanya ketika sedang berada di gua Hira.

Kemudian beliau mulai berdakwah untuk beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya, hanya menyembah Allah SWT saja. Lalu beliau menerima berbagai macam gangguan. Beliau tetap sabar hingga Allah SWT menampakkan agama-Nya. Beliau hijrah ke Madinah. Lalu disyari’atkan segala hukum, kemudian Islam menjadi mulia dan agama menjadi sempurna.

Beliau SAW meninggal dunia pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal tahun ke sebelas Hijriyah, ketika berumur 63 tahun. Bertemu dengan ar-Rafiq al-A’laa (Allah SWT) setelah beliau SAW menyampaikan risalah dengan jelas, menunjukkan kepada umat atas segala kebaikan dan memberi peringatan dari segala kejahatan. Semoga sholawat dan salam tetap terlimpah pada beliau.

Keistimewaan-keistimewaan beliau:

Di antara keistimewaan Nabi SAW bahwa beliau adalah penutup para nabi, pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertaqwa. Risalahnya berlaku umum kepada bangsa jin dan manusia. Allah SWT mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam. Beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis. Dinaikkan ke atas langit. Allah SWT memanggilnya dengan sifat nubuwah (kenabian) dan risalah.

Dari Jabir r.a, bahwa Nabi SAW bersabda, “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seseorang sebelum aku: Aku diberi pertolongan dengan takutnya (musuh) dari jarak perjalanan satu bulan. Bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan alat bersuci. Siapapun juga dari umatku yang bertemu waktu shalat maka hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta ganimah untukku dan tidak dihalalkan kepada seseorang sebelumku. Aku diberi syafaat. Seorang Nabi hanya diutus kepada kaumnya saja dan aku diutus kepada semua manusia. “Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 335 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 521)

Di antara keistimewaan beliau tetapi tidak bagi umatnya adalah: menyambung puasa, nikah tanpa mahar, nikah lebih dari empat orang istri, tidak memakan harta sedekah, dia mendengar apa yang tidak didengar manusia, dan melihat apa yang tidak bisa dilihat manusia, sebagaimana beliau melihat Jibril a.s menurut bentuk yang Allah SWT ciptakan atasnya, dan beliau tidak diwarisi.

Permulaan wahyu kepada Nabi SAW:

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, “Pertama-tama yang dimulai Rasulullah SAW dari wahyu adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Maka tidak pernah beliau melihat mimpi kecuali ia datang seperti fajar yang menyingsing. Kemudian ia dijadikan suka kepada menyendiri (berkhulwat). Beliau menyendiri di gua Hira. Beliau SAW beribadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang sebelum kembali kepada keluarganya, dan mengambil bekal untuk hal itu. Kemudian beliau SAW kembali kepada Khadijah r.a, lalu mengambil bekal lagi. Sampai datang kepada beliau al-Haqq, dan beliau sedang berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya seraya berkata, ‘Bacalah?’ Beliau SAW menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Beliau SAW bersabda, ‘Lalu ia mengambilku, memelukku hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Lalu ia mengambilku, memelukku yang kedua kali hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka ia mengambilku, lalu memelukku yang ketiga kalinya. Kemudian ia melepasku seraya berkata,


Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. (QS. Al-‘Alaq:1-3)

Lalu Rasulullah SAW pulang seraya gemetar. Lalu ia masuk kepada Khadijah binti Khuwailid r.a seraya berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku’. Maka, mereka menyelimutinya sampai hilang rasa takut darinya. Beliau berkata kepada Khadijah r.a dan menceritakan semuanya: ‘Sungguh aku merasa khawatir terhadap diriku. Khadijah r.a berkata, ‘Sama sekali tidak. Demi Allah SWT, Allah tidak akan menghinakanmu. Sesungguhnya engkau menyambung silaturrahim, memikul yang kesusahan, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong di atas kebenaran.

Lalu pergilah Khadijah r.a bersamanya hingga membawanya kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah (saudara sepupu). Dia adalah seorang yang beragama Nashrani di masa jahiliyah. Dia pandai menulis kitab berbahasa Ibrani. Dia menulis dari Injil dengan bahasa Ibrani, apa yang Allah SWT kehendaki. Dia seorang tua renta yang telah buta. Khadijah r.a berkata kepadanya, ‘Hai anak pamanku, dengarlah dari anak saudaramu.’ Waraqah berkata kepadanya, ‘Hai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?’ lalu Rasulullah SAW menceritakan kepadanya apa yang dilihatnya.

Waraqah berkata kepadanya. ‘Ini adalah an-Namus (Jibril a.s) yang telah Allah SWT turunkan kepada Musa a.s. Andaikan aku masih muda pada saat itu. Andaikan aku masih hidup saat kaummu mengusirmu.’ Rasulullah SAW bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ Ia menjawab, ‘Benar, tidak ada seseorang yang datang membawa seperti yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Jika aku masih hidup sampai saat itu, niscaya aku membelamu dengan pembelaan yang kuat.’ Kemudian tidak berapa lama, Waraqah meninggal dunia dan terhenti wahyu.’ Muttafaqun ‘alaih. (HR. Al-Bukhari no. 3 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 160)

Istri-istri beliau SAW:

Ummahatul Mu’minin (Ibu-ibu kaum mukminin) adalah istri-istri Rasulullah SAW di dunia dan akhirat. Semuanya adalah muslimah, baik, bersih, suci, bebas dari keburukan yang mencemari kehormatan mereka. Mereka adalah:

Khadijah binti Khuwailid, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam’ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anhunna ajma’in (semoga Allah meridhai mereka semuanya).

Yang meninggal sebelum Rasulullah SAW dari mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah dan yang lainnya meninggal setelah Rasulullah SAW.

Istri-istrinya yang paling utama adalah Khadijah r.a dan ‘Aisyah r.a.

Anak-anak Rasulullah SAW:

1. Rasulullah SAW mempunyai tiga orang anak laki-laki: al-Qasim dan Abdullah dari Khadijah, serta Ibrahim dari jariyahnya Mariyah al-Qibthiyah. Semuanya meninggal dunia saat masih kecil.

2. Adapun anak perempuan: Rasulullah SAW mempunyai empat orang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Semuanya dilahirkan dari Khadijah. Semuanya sempat menikah dan meninggal dunia sebelum Rasulullah SAW kecuali Fathimah, ia meninggal setelah Rasulullah SAW. Semuanya adalah muslimah, baik, dan suci radhiyAllahu ‘anhunn ajma’in.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW:

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW adalah generasi terbaik. Mereka mempunyai keutamaan besar di atas semua umat. Allah SWT telah memilih mereka untuk menemani Nabi SAW-Nya. Mereka beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka berdiri membela dan menolong Allah SWT dan Rasul-Nya. Berhijrah karena agama. Memberikan tempat kediaman dan pertolongan karena agama. Berjihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa mereka. Hingga Allah SWT ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Yang paling mulia dari mereka adalah kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar.

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengiringi mereka, kemudian yang mengiringi mereka. Kemudian datang beberapa kaum yang persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.’ Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no 2652 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2533)

Mencintai sahabat-sahabat beliau SAW:

Wajib kepada setiap orang muslim mencintai mereka semua dengan hati, memuji mereka dengan lisan, mendoakan rahmat atas mereka, memintakan ampun untuk mereka, menahan diri tentang pertentangan di antara mereka, dan tidak mencela mereka. Hal itu karena mereka mempunyai kebaikan dan keutamaan, ma’ruf dan ihsan, membela Allah SWT dan Rasul-Nya dengan taat dan jihad fi sabilillah, berdakwah kepada-Nya, berhijrah dan membela, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT karena mengharap ridha Allah SWT, maka Allah SWT ridha kepada mereka semua.

1. Firman Allah SWT:


Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah SWT ridha kepada mereka dan Allah SWT menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:100)

2. Firman Allah SWT:


Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah SWT, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. (QS. 8:74)

3. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kamu mencela sahabatku, janganlah kamu mencela sahabatku. Demi (Allah SWT) yang diriku berada di Tangan-Nya, jikalau sesungguhnya seseorang di antara kamu memberi nafkah (infaq) emas seperti bukit Uhud (banyaknya), niscaya ia tidak bisa menyamai satu mud atau setengah mud salah seorang dari mereka.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 2540 dan ini adalah lafazhnya)

Lihat Daftar Isi Belajar Fiqih Islam

Dipublikasi di Belajar Fiqih Islam | Tinggalkan komentar

3. BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB

Beriman kepada kitab-kitab, yaitu membenarkan dengan mantap (yakin) bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab kepada nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya sebagai petunjuk untuk hamba-hamba-Nya. Kitab-kitab tersebut berasal dari kalam-Nya secara hakekat. Dan sesungguhnya apa yang dikandungnya adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya. Di antaranya ada yang Allah SWT sebutkan namanya di dalam Kitab-Nya, dan di antaranya ada yang tidak mengetahui nama dan jumlahnya selain Allah SWT.

Jumlah kitab-kitab samawiyah yang disebutkan di dalam al-Qur`an:

Allah SWT menjelaskan di dalam al-Qur`an bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab berikut ini:

1. Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim as.

2. At-Taurat: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Musa as.

3. Az-Zabur : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Daud as.

4. Al-Injil : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Isa as.

5. Al-Qur`an: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW untuk semua manusia.

Hukum beriman dan beramal dengan kitab-kitab samawiyah yang telah lalu:

Kita percaya bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab ini, membenarkan yang shahih dari berita-beritanya seperti berita-berita al-Qur`an, dan berita-berita yang belum diganti atau dirubah dari kitab-kitab terdahulu. Kita mengamalkan hukum-hukum yang belum dinasakh darinya disertai ridha dan berserah diri. Dan apa-apa yang tidak kita ketahui namanya dari kitab-kitab samawiyah, kita beriman dengannya secara umum.

Semua kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Injil dan Zabur dan selainnya sudah dinasakh dengan al-Qur`an al-‘Azhim, sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Maidah:48)

Apa yang ada di tangan Ahli Kitab yang dinamakan Taurat dan Injil, tidak benar menyandarkan semuanya kepada Nabi-Nabi Allah SWT dan Rasul-rasul-Nya. Telah terjadi penyimpangan dan perubahan dalam keduanya, seperti mereka menyandarkan anak kepada Allah SWT, kaum Nashrani menjadikan Isa a.s sebagai tuhan, memberi sifat kepada al-Khaliq dengan sifat yang tidak pantas dengan kebesaran-Nya, menuduh para nabi, dan semisal yang demikian itu. Maka wajib menolak semua itu dan tidak beriman kecuali dengan apa yang datang pembenarannya di dalam Al-Qur`an atau sunnah (Al-Hadits).

Apabila Ahli Kitab menceritakan kepada kita, maka janganlah kita membenarkan dan jangan pula mendustakan mereka. Dan kita berkata: Kami beriman kepada Allah SWT, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Jika yang mereka katakan adalah benar, kita tidak mendustakan mereka. Dan jika yang mereka katakan adalah batil, kita tidak membenarkan mereka.

Hukum beriman dan mengamalkan al-Qur`an al-Karim:

Al-Qur`an al-Karim yang telah diturunkan Allah SWT kepada penutup dan paling utama dari para rasul, Muhammad SAW adalah penutup kitab samawi, paling agung, paling sempurna, paling bijaksana. Allah SWT menurunkannya sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk dan rahmat bagi semesta alam.

Ia adalah kitab paling utama. Malaikat paling utama, Jibril a.s turun dengannya kepada makhluk paling utama yaitu Muhammad SAW, kepada umat paling utama yang dikeluarkan untuk manusia, dengan bahasa paling utama dan paling fasih, yaitu bahasa Arab yang jelas. Setiap orang wajib beriman dengannya, mengamalkan hukum-hukum-Nya, beradab dengan adab-adabnya. Allah SWT tidak menerima amal ibadah dengan selainnya setelah turunnya (al-Qur`an) yang Allah SWT memberi jaminan terpeliharanya. Maka, ia terpelihara dari penyimpangan dan perubahan, dan dari tambahan dan kekurangan.

1. Firman Allah SWT:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr:9)

2. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy-Syu’araa:192- 195)

Kandungan-kandungan ayat-ayat al-Qur`an:

Ayat-ayat al-Qur`an mengandung penjelasan segala sesuatu, yaitu berita atau tuntutan. Dan berita terbagi dua;

1. Berita tentang al-Khaliq (Sang Maha Pencipta), nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan perkataan-perkataan-Nya, yaitu Allah SWT.

2. Berita tentang makhluk, seperti langit dan bumi, arsy dan kursi, manusia dan binatang, benda padat dan tumbuhan, surga dan neraka. Berita para nabi dan rasul serta para pengikut dan musuh mereka, dan balasan setiap golongan dan yang semisal dengan itu.

Tuntutan terbagi dua:

1. Perintah hanya menyembah Allah SWT saja, taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, seperti shalat, puasa, dan perintah-perintah Allah SWT yang lain.

2. Larangan dari menyekutukan Allah SWT, peringatan dari apa-apa yang diharamkan Allah SWT, seperti riba, perbuatan-perbuatan keji, dan larangan-larangan Allah SWT lainnya.

Bagi Allah SWT segala puji dan syukur, untuk-Nya nikmat dan karunia, di mana Dia telah mengutus kepada kita Rasul paling utama dan menurunkan kepada kita kitab-Nya yang paling utama, serta menjadikan kita umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

1. Firman Allah SWT:


Allah SWT telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah SWT. Itulah petunjuk Allah SWT, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah SWT, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar:23)

2. Firman Allah SWT:

Sungguh Allah SWT telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah SWT mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah SWT, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi SAW) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali ‘Imraan:164)

Lihat Daftar Isi Belajar Fiqih Islam

Dipublikasi di Belajar Fiqih Islam | Tinggalkan komentar

2. BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Beriman (percaya) kepada malaikat yaitu membenarkan dengan pasti bahwa Allah SWT mempunyai malaikat-malaikat yang ada. Kita beriman kepada yang disebutkan oleh Allah SWT namanya dari mereka seperti Jibril a.s dan kepada yang tidak kita ketahui namanya dari mereka, maka kita beriman kepada mereka secara umum. Dan kita beriman kepada apa yang kita ketahui dari sifat-sifat dan tugas-tugas mereka.

Malaikat dari sisi martabat/tingkatan: hamba-hamba yang dimuliakan, menyembah Allah SWT. Tidak ada sedikit pun dari mereka yang mempunyai keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka adalah alam gaib (alam tidak nyata, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang). Allah SWT menciptakan mereka dari nuur (cahaya).

Malaikat dari sisi pekerjaan: menyembah Allah SWT dan bertasbih kepada-Nya:


Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (QS. Al-Anbiyaa`: 19-20).

Malaikat dari sisi ketaatan kepada Allah SWT: Allah SWT memberikan kepada mereka sifat tunduk secara sempurna terhadap perintah-Nya dan kekuatan dalam melaksanakannya. Mereka difitrahkan untuk berbuat taat:

yang tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahriim:6)

Jumlah Malaikat: Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung jumlah mereka selain Allah SWT. Di antara mereka ada para pemikul arasy, penjaga-penjaga surga, penjaga-penjaga neraka, para pemelihara, para penulis, dan selain mereka. Dan 70.000 dari mereka shalat setiap hari di Baitul-Ma’mur. Apabila mereka keluar, niscaya mereka tidak akan pernah kembali kepadanya.

Dalam cerita al-Mi’raaj, sesungguhnya Nabi SAW tatkala mendatangi langit ke tujuh, beliau bersabda:…lalu aku diangkat ke Baitul Ma’mur, aku bertanya kepada Jibril a.s, ia menjawab: ‘Ini adalah Baitul Ma’mur, setiap hari 70.000 orang malaikat shalat di dalamnya, apabila mereka keluar, niscaya mereka tidak akan pernah kembali kepadanya.‘ Muttafaqun ‘alaih. (Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no.3207 dan lafazh ini baginya, dan Muslim no (162))

Nama-nama dan Tugas-tugas Para Malaikat

Malaikat adalah hamba-hamba Allah SWT yang dimuliakan. Allah SWT menciptakan mereka untuk taat dan beribadah kepada-Nya. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Allah SWT. Di antara mereka ada yang Allah SWT beritahukan kepada kita tentang nama-nama dan tugas-tugas mereka dan di antara mereka ada yang hanya Allah SWT yang mengetahui tentang mereka. Allah SWT telah memberikan tugas kepada mereka, di antara mereka adalah:

1. Jibril a.s: Dia yang diwakilkan (ditugaskan) membawa wahyu kepada para Nabi dan rasul.

2. Mikail a.s: Dia yang diwakilkan (diberi tugas) untuk menurunkan hujan dan tumbuhan.

3. Israfil a.s: Dia yang diwakilkan (diberi tugas) meniup terompet.

Mereka adalah para pembesar malaikat. Mereka diberi tugas dengan sebab-sebab kehidupan. Jibril ditugaskan dengan wahyu yang dengannya hidup semua hati. Mikail ditugaskan dengan hujan yang dengannya terjadi kehidupan bumi setelah matinya. Israfil ditugaskan meniup terompet yang dengannya terjadi kehidupan semua tubuh setelah matinya.

4. Malik, penjaga neraka: Dia ditugaskan sebagai penjaga neraka.

5. Ridhwan penjaga surga: Dia diwakilkan sebagai penjaga surga.

Di antara mereka ada Malakul maut yang ditugaskan mencabut ruh saat meninggal dunia.

Di antara mereka ada para pemikul arsy, penjaga-penjaga surga dan penjaga-penjaga neraka.

Di antara mereka adalah para malaikat yang ditugaskan menjaga anak cucu Adam a.s, menjaga amal perbuatan mereka, dan mencatatnya bagi setiap orang. Di antara mereka ada yang ditugaskan dengan seorang hamba secara terus menerus. Di antara mereka ada malaikat yang silih berganti siang dan malam. di antara mereka ada malaikat yang mengikuti majelis-majelis zikir. Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan dengan janin di dalam kandungan, mereka menulis rizqinya, amalnya, ajalnya, dan celaka atau keberuntungannya dengan perintah Allah SWT.

Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan dengan memberikan pertanyaan kepada mayit di dalam kuburnya tentang Rabb-nya, agamanya, dan Nabinya. Dan selain mereka sangat banyak sekali yang tidak diketahui jumlahnya oleh selain Allah SWT yang menghitung segala sesuatu secara terperinci.

Tugas malaikat al-Kiraam al-Katibiin (Yang mulia di sisi Allah SWT dan yang mencatat amal-amal perbuatan manusia):

Allah SWT menciptakan malaikat al-Kiram al-Katibiin dan menjadikan mereka sebagai penjaga terhadap kita. Mereka menulis segala perkataan, perbuatan dan niat. Setiap satu orang manusia disertai dua orang malaikat, sebelah kanan menulis kebaikan dan sebelah kiri menulis keburukan. Dan dua orang malaikat yang lain bertugas menjaga dan memeliharanya. Satu orang berada di belakangnya dan satunya berada di depannya.

1. Firman Allah SWT:

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah SWT) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Infithaar:10-12)

2. Firman Allah SWT:


(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf:17-18)

3. Firman Allah SWT:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah SWT. (QS. Ar-Ra’ad:11)

4. Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman, ‘Apabila hambaku ingin melakukan kejahatan, maka janganlah kamu menulis kejahatan itu atasnya sampai dia melakukannya. Jika dia melakukannya maka tuliskan seumpamanya. Dan jika dia meninggalkannya karena Aku, maka tulislah untuknya satu kebaikan. Dan jika dia ingin melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka tulislah baginya satu kebaikan. Dan jika dia melakukannya maka tulislah baginya dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.” Muttafaqun ‘alaih. (Muttafaqun ‘alaih. Al-Bukhari no 7501 dan ini lafazdnya, dan Muslim no. 128)

Besarnya bentuk malaikat

Dari Jabir r.a, dari Nabi SAW , beliau bersabda: “Aku diberi izin menceritakan tentang satu malaikat dari malaikat-malaikat Allah SWT, dari malaikat pemikul arasy. Sesungguhnya (jarak) di antara daun telinga bagian bawahnya sampai ke pundaknya adalah perjalanan tujuh ratus tahun.” HR. Abu Daud. (Shahih. HR. Abu Daud no.4727, Shahih Sunan Abi Daud no. 3953. lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 151)

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, sesungguhnya Muhammad SAW pernah melihat Jibril a.s, ia mempunyai enam ratus sayap. Muttafaqun ‘alaih.( Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no 4857 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 174)

Manfaat beriman kepada malaikat:

1. Mengetahui kebesaran Allah SWT, kekuasaan, kekuatan, dan hikmah-Nya. Dia telah menciptakan malaikat yang tidak mengetahui jumlah mereka selain Allah SWT. Dia SWT menjadikan di antara mereka pemikul arsy, yang salah satu dari mereka jarak di antara daun telinganya bagian bawah sampai pundaknya adalah perjalanan tujuh ratus rahun. Bagaimana dengan besarnya arsy? Dan bagaimana kebesaran yang berada di atas arasy. Maha suci Allah SWT yang telah berfirman:

Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Jatsiyah:37)

2. Memuji Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya atas perhatian-Nya terhadap anak cucu Adam a.s dimana Dia SWT telah mewakilkan dari kalangan malaikat untuk bertugas menjaga mereka, menolong, dan mencatat amal perbuatan mereka.

3. Mencintai malaikat atas apa yang mereka lakukan yaitu beribadah kepada Allah SWT, berdoa, dan meminta ampunan untuk kaum mukminin, sebagaimana firman Allah SWT tentang para pemikul arsy dan yang berada di sekitarnya:


(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghaafir:7-9)

Lihat Daftar Isi Belajar Fiqih Islam

Dipublikasi di Belajar Fiqih Islam | Tinggalkan komentar