Tak Ada Kata “SULIT!” Dalam Menghapal Al-Qur’an ^_^


Pada umumnya, biografi para tokoh dari ulama yang sering kita baca menggambarkan mereka telah hebat sejak belia. Ketika usia balita telah mampu menghapal Al-Qur’an, masa kanak-kanak yang dihiasi dengan thalabul ‘ilmi dan kecerdasan yang telah nampak sejak usia dini. Bagi orang yang ‘terlanjur’ dewasa, kisah seperti itu terkadang hanya sebagai hiburan dan hanya bisa menikmati kekaguman terhadap figur ulama. Sebagian lagi menjadikannya sebagai motivasi dalam mendidik anak-anaknya.

Peluang Masih Ada

Yang paling disayangkan, kisah-kisah seperti itu malah ‘membunuh’ motivasi sebagian orang dewasa yang merasa masih biasa-biasa saja dan tak memiliki kemampuan istimewa. Timbul rasa pesimis dibenaknya, “Masa kecilku tak sehebat mereka, masa mudaku tak sebrilian mereka, kini aku sudah tua, tak mungkin lagi bisa hebat seperti mereka.”

Motto salah alamat pun sering dijadikan alasan. “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa bagai mengukir di atas air.” Ia pun merasa sia-sia untuk belajar. Sesekali mendendangkan motto, “Barangsiapa tidak menanam benih (di usia muda) tak akan menuai hasil panen (di usia tua)”. Kemudian ia merasa sudah tua dan terlambat untuk mencoba. Mengapa kita tidak ambil motto lain yang lebih cocok dengan usia kita dan lebih memotivasi diri. Seperti perkataan Ahnaf bin Qais untuk mengimbangi motto yang pertama, “Wal kabiiru aktsaru ‘aqlan”, tetapi orang tua lebih banyak akal. Orang dewasa memiliki kreativitas untuk mengembangkan potensi. Mereka punya banyak cara yang bisa dicoba, tidak sebagaimana anak kecil yang hanya bisa berbuat sesuai dengan apa yang dicontohkan kepadanya.

Kenapa pula kita tidak menggunakan motto, “Jangan katakan kesempatan telah berlalu, karena siapa berusaha niscaya sampailah ia ke tempat yang dituju.” Bukankah seandainya kiamat tinggal sehari, lalu di tangan kita ada biji tanaman yang siap kita tanam, kita diperintahkan untuk menanamnya? Ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang kita usahakan tidaklah sia-sia.

Sejarah juga tidak hanya menyajikan sosok-sosok yang istimewa sedari kanak-kanak. Ada yang biasa-biasa saja seperti Malik bin Dinar, setelah putrinya meninggal ia bertaubat sekaligus memulai belajar agama di usia dewasa. Bahkan ulama kenamaan di zaman tabi’in Fudhail bin ‘Iyadh lebih gelap lagi latar belakangnya. Dahulunya ia seorang perampok. Setelah bertaubat dan belajar akhirnya menjadi ulama besar.

Dari zaman ke zaman, selalu ada contoh-contoh yang mewakili sebagai orang-orang biasa, namun menjadi luar biasa karena kesungguhannya yang luar biasa. Seperti yang dilakukan oleh seorang warga Saudi bernama Malik Muhammad Abdul Malik. Meski sudah lebih dari 60 tahun usianya dan mata pencahariannya sebagai seorang sopir, tak menghalangi dirinya untuk mengikuti halaqoh tahfizh Al-Qur’an. Hingga akhirnya beliau mampu menyelesaikan hapalan 30 juz selama 15 tahun.

Motivasi yang beliau pegang adalah, “Jika tekad sudah bulat, maka yang susah akan terasa mudah.”

Muna Sa’id al-Ulaiwah dalam bukunya Qishshati fi hifzhil Qur’an mengisahkan ada kakek tua berumur 80 tahun mendatangi salah seorang ustadz di Masjid Nabawi dan berkata, “Saya ingin menghapal Al-Qur’an, tolong ajari saya.”  Ustadz menjawab, “Wahai Bapak, umur Anda sudah tua, duduk saja bersama kami untuk mendengarkan.” Tapi dia tetap bersikukuh pada pendiriannya, “Tapi saya ingin menghapal.” Sang guru menyuruhnya membaca Al-Qur’an, tapi ia berkata, “Saya belum lancar membacanya, tolong ajari saya dari awal.” Tapi, siapa sangka lima tahun kemudian sang kakek telah hapal 30 juz, Allah tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Bagi sebagian kita yang merasa sibuk dengan urusan ma’isyah (pencaharian), ada baiknya menyimak kisah yang disebutkan Muna al-Ulawiah di buku tersebut. Yakni tentang sopir yang senantiasa menyempatkan diri untuk menghapal Al-Qur’an saat menanti pergantian lampu merah di persimpangan jalan. Ia bekerja sebagai sopir. Ia sengaja menyimpan musshaf di mobilnya, saat lampu merah menyala, ia sempatkan untuk membuka musshaf dan menghapalkan satu-dua baris dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dia memberikan kesaksian tentang dirinya. “Aku hapal surat Al-Baqarah sepenuhnya di jalan saat menanti lampu merah.” Sangat berbeda dengan kebiasaan orang yang hanya melihat mobil di sekitarnya atau bahkan menggerutu dan mengungkapkan kekesalannya.

Jangan Berkata “Sulit!”

DR.Abdullah Mulhim menegaskan, “Seseorang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya dengan cara mengubah pola pikirnya.” Ketika seseorang mengubah persepsi susah, sulit, sukar, mustahil diganti dengan mudah dan mungkin, ini sangat membantu seseorang untuk mewujudkan cita-citanya. Begitupun sebaliknya.

Masih di buku yang sama, Muna al-Ulaiwah mengisahkan seorang bapak yang memiliki anak yang sedang menghapalkan Al-Qur’an. Bapak itu bercerita, “Saya memiliki anak yang masih kecil, hapalannya sangat bagus. Setiap hari ia menghapal dan menyetorkan hapalannya kepada ustadznya satu setengah halaman dengan lancar. Dengan cara ini, ia telah hapal juz Amma, juz 29 dan juz 28. Saat hendak memulai juz ke-27, ia bertanya kepadaku, “Ayah, apakah saya memulai dari depan atau belakang?”. “Dari belakang saja, nak.” Kataku. Ia bertanya, “Kenapa dari belakang?”. Ku katakan, “Karena surat Al-Hadid itu sulit.”

Sang anak pun menurut, seperti biasanya ia mampu melalui surat demi surat dengan mudah. Namun, tatkala smapai pada Surat Al-Hadid, ia merasa kesulitan untuk menghapalnya, hingga butuh waktu selama satu setengah bulan untuk menghapalnya. Kenapa bisa sesulit itu? Karena telah ter-install di pikirannya bahwa menghapal Surat Al-Hadid itu sulit. Maka persepsi itu sangat mempengaruhi kemampuan seseorang. Begitupun dengan orang yang sudah dewasa, ketika telah terpatri dibenaknya bahwa menghapal itu sulit, maka kesulitan akan dialaminya.

Singkat kata, orang yang optimis, satu tekad saja sudah cukup baginya untuk menepis seribu halangan. Berbeda dengan orang yang pesimis, seribu alasan akan diungkapkan untuk menghindari satu tantangan. Pilihan selanjutnya terserah kita. Wallahu a’lam…,

Referensi : Majalah Ar-Risalah edisi 139


Sobat, pernah nggak kita bercita-cita atau mempunyai keinginan untuk menghapal 30 Juz Al-Qur’an. Dalam benak kita langsung terbayang Al-Qur’an yang begitu tebal dengan bahasa arab yang susah. Boro-boro 30 juz, juz 30 aja belum hapal semuanya. Tapi kenapa ada banyak orang yang bisa hapal Al-Qur’an. Tidak hanya orang arab saja. tapi orang selain arab juga banyak hapal Al-Qur’an.

Beberapa hari kemarin dirumah saya kebetulan ada dua orang adik yang masih berumur 15 tahun sudah hapal Al-Qur’an. Rencananya ia akan melanjutkan daurah Al-Qur’an di Gaza. Tempat anak-anak penghapal Al-Qur’an. Kita masih beruntung disini masih bisa belajar dan menghapal dengan tenang. Tapi disana, anak-anak Gaza menghapal Al-Qur’an di bawah desingan peluru dan bom.

Ada sebuah pertanyaan mungkin dalam diri kita, kenapa sih kita pusing-pusing ngapalin Qur’an? Apa manfaatnya bagi kita? Karena kita tidak mungkin mau melakukan sesuatu tanpa tahu apa manfaatnya bagi kita. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa orang yang hapal Al-Qur’an, maka pada hari kiamat nanti orang tuanya akan diberikan mahkota. Ya, mahkota dari surga.

Tidak hanya itu kawan, orang yang hapal Al-Qur’an sangat dimuliakan oleh Allah Swt. Sehingga dimanapun kita berada dan tanpa ada mushaf-pun, kita masih bisa tetap membaca Al-Qur’an. Maka tidak heran para sahabat dan tabi’in bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seminggu. Karena mereka bisa membacanya dimana saja.

Setiap huruf yang kita baca akan dibalasi sepuluh kebaikan oleh Allah Swt. Maka beruntung sekali orang yang hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an. Sebaliknya merugi sangat kata kawan saya orang Malaysia jika orang yang jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk menghapal Al-Qur’an, membacanya saja tidak tahu berapa kali dalam seminggu.

Saya melihat orang-orang yang hapal Al-Qur’an dan mengamalakannya hidup mereka begitu tenang. Sebab lidah mereka selalu basah dengan Al-Qur’an. Tapi lihatlah wajah-wajah yang jauh dari Al-Qur’an, begitu kusam dan hidup dalam ketidak tenangan. Kata anak muda anak sekarang hidupnya selalu galau. Yah, karena sudah janji Allah.  Orang-orang yang membantah peringatan Kami kata Allah, maka akan Kami jadikan hidup mereka sempit.

Dari sekarang mari kita mulai untuk mengahapal Al-Qur’an. One Day One Ayat. Perlahan insya Allah bisa. Yang paling penting ada kemauan dalam diri dan optimis bahwa kita bisa menghapal seluruh Al-Qur’an. Sebab Allah akan memudahkan Al-Qur’an bagi yang ingin mengahapalnya. Berbeda dengan injil, tak pernah kita dengar orang yang hapal seluruh injil, apalagi Injil sekarang sesuai dengan bahasa masing-masing. Tapi tetap saja tidak ada yang hapal injil.

Masih banyak manfaat dan keuntungan orang yang hapal Al-Qur’an. Di sini di negeri kinanah terkadang kita malu dengan anak-anak SD yang masih kecil-kecil, tapi sudah hapal belasan juz, bahkan sudah selesai 30 juz. Itulah bedanya anak-anak Mesir dengan anak-anak Indonesia. Anak-anak Mesir dari kecil sudah diajari oleh orang tua mereka untuk menghapal Al-Qur’an. Bahkan saat ini musim panas, hampir rata-rata di masjid banyak terdapat daurah tahfidz Al-Qur’an.

Beruntunglah bagi orang tua yang anaknya hapal Al-Qur’an. Karena kunci kecerdasan anak itu adalah pada Al-Qur’an. jika ia sudah hapal Al-Qur’an maka akan mudah baginya untuk menguasai ilmu-ilmu lainnya. Insya Allah!

Tak ada kata terlambat dalam menghapal Al-Qur’an. Selagi kita masih hidup berarti kita masih punya kesempatan untuk menghapal Al-Qur’an. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi 30 juz, hehehe

Semoga kita termasuk ahli Al-Qur’an. Orang yang hidupnya selalu bersama Al-Qur’an. Jadi seorang aktivis dakwah itu di dalam tasnya itu ada hape untuk berhubungan dengan manusia, dan ada Al Qur’an untuk selalu on with Allah. Kalo sekarang pada marak nikah dini, maka kita marakkan hafidz dini. Setuju.! :)

Betapa indahnya hidup bersama Al Qur’an, membacanya, mendengarkannya, merenungkannya, mentadabburinya dan menghapalkannya !

Postingan dari blog tetangga sebelah :)

http://yusuf-alfakhri.blogspot.com/2012/07/kecil-kecil-jadi-hafidz.html


Fatih Saferagic.

Dialah pemuda itu. Hafiz Qur’an, bersuara indah dan tampan pula :)
Masya Allah..
Tinggal dan menetap di Amerika Serikat bukan menjadi alasan baginya untuk tidak menghapal Al-Qur’an.
Akhi berkebangsaan Bosnia ini lahir di Stuttgart, Jerman dan sekarang tinggal di Texas, AS.
Pada umur 4 tahun ia pindah ke AS, tinggal di Arizona selama 3-4 tahun sebelum menetap di Baltimore, Maryland selama 7 tahun dimana ia memulai dan menuntaskan hapalan Al-Qurannya.

Sejatinya ia baru memulai menghapal Al-Qur’an pada usia 9 tahun dan menuntaskan hapalannya dalam 3 tahun, alias menjadi hafiz pada usia 12 tahun (catat! 12 tahun!). Ia melatih hapalannya itu di bawah bimbingan Syekh Qari Zahid dan Qari Abid.  Sekarang sambil sekolah, ia juga mengajar Al Qur’an dan menjadi ketua remaja mesjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas.

Itu di Amerika loh, di negara adikuasa yang sama-sama kita tahu Islam masih menjadi minoritas.
So, bagaimana dengan kita?
di negara INDONESIA yang mayoritas adalah umat Islam.
Sudah hapal berapa juz?
Sudah berapa ayat hari ini?
#tanyakan pada diri sendiri

MANJADDA WAJADA!
Bukan masalah tempat, bukan masalah usia.
Hanya masalah kemauan dan kesungguhan.
Sungguh, betapa indahnya jika mampu menghapal 30 juz :)
#TARGETKAN!

Postingan dari blog tetangga sebelah :)

http://hadiahdi.wordpress.com/2012/06/16/fatih-seferagic/

Jujur, saya jadi termotivasi setelah membaca artikel-artikel di atas. Bagaimana dengan kamu sob?

Jadi termotivasi juga tho? So, pasti kan.., :)

Dan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits di bawah ini mengenai keutamaan menghapal Al-Qur’an:

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Sawbersabda:  “Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”

[HR. Tirmidzi, hadits hasan (2916), Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih]

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an” [Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi]

Bismillah.., OPTIMIS PASTI BISA!
 Jika juz 30 sudah lancar dihapal setelah itu bener-bener bisa hapal 30 juz. Aamiin. :)


NB: Saya pernah berkata kepada anak saya, “Cita-cita Rasyid ingin jadi apa nanti?” Dijawab, “Ingin jadi pemain bola?”. Saya kaget, saya tanya kembali ke anaknya, “Kenapa ingin menjadi pemain bola ?”. Dijawab lagi oleh anak saya, “Pemain bola yang Hafal Al-Qur’an“. Alhamdulillah, baru deh lega hati saya mendengarnya :)

Sumber: http://pengukirpelangisenja.wordpress.com/2013/02/05/tak-ada-kata-sulit-dalam-menghafal-kalam-nya-_/

Editing kembali oleh Sofyan Efendi

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sofyan Efendi
http://imopi.wordpress.com/

Dipublikasi di Hafalan Al-Qur'an | Tinggalkan komentar

Kisah Penggembala Kambing yang Hafal Al-Quran

Ia sengaja tidak memiliki radio dan televisi. Ia sengaja tidak membaca koran dan mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia. Tapi ia ingin hanya tahu informasi dari Allah dari al-Quran.

SEORANG penggembala kambing, sebut saja namanya Urwah, dari negara Kuwait menceritakan kisahnya seperti yang ditulis oleh Syeikh Hamdan Hamud Al-Hajiri dalam kitabnya “Auladuna, Kaifa Yahfazhunal Qur`an”. Berikut adalah kisahnya.

Pada saat berangkat, aku merasakan dua hal yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Di satu sisi aku merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarga di kampung, namun di sisi lain aku merasa senang karena bisa pergi ke Arab Saudi. Ini kali pertama aku masuk bandara dan berpergian dengan pesawat terbang. Perasaan pun bercampur aduk, antara gembira, sedih, dan rasa takut. Semuanya aku rasakan saat itu.

Aku tidak sempat memikirkan tentang pekerjaan dan di mana aku akan bekerja setelah mendapatkan panggilan dari seseorang di Arab Saudi. Bagiku yang hanya lulusan SMA ini, diterima bekerja di Arab Saudi saja adalah sesuatu yang hebat; karena jarang bagi kalangan menengah ke bawah di kampungku untuk pergi ke luar negeri. Apapun pekerjaannya, yang penting halal dan hasilnya dapat aku tabung untuk kembali ke Kuwait.

Tak terasa, muncul dalam pikiranku tentang pakaian ihram yang ingin aku gunakan pada musim haji dan cita-citaku untuk menghafal al-Quran selama berada di Arab Saudi. Inilah cita-citaku semenjak lama. Sungguh aku akan berusaha menghadapi semua kesulitan untuk menggapai cita-citaku itu.

Perasaan takut lalu berubah menjadi tenang ketika aku tenggelam bersama cita-citaku tersebut. Namun, pikiranku seketika buyar bersamaan dengan datangnya seorang petugas bandara yang meminta paspor. Aku lalu menyerahkan pasporku kepadanya. Petugas itu bertanya,

“Apa pekerjaanmu? Penggembala kambing?”

“Iya.”

Aku jawab dengan tegas pertanyaannya.

Setelah mengambil barang bawaan, aku keluar bandara. Aku melihat namaku yang tertulis di kertas besar dibawa oleh seseorang. Ternyata, dia adalah majikanku. Dia menyambutku dengan senyuman.

Setelah itu, aku masuk mobil majikanku yang tengah parkir di sana. Aku melihat lampu kota dari kejauhan yang perlahan menghilang seiring dengan laju kendaraan yang membawa kami. Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti dari majikanku. Berapa tahun kamu pernah menggembala kambing? Apakah engkau dapat mengenali penyakit-penyakit kambing? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Setelah pertanyaan-pertanyaan yang banyak, rasa kantuk mulai menguasaiku. Majikanku mulai memberikan nasihat-nasihat, “Jangan kamu putus asa! Janganlah kamu takut! Kamu harus bersemangat dan bersungguh-sungguh.”

Kami sampai di kemah kecil setelah melalui jalan-jalan yang berliku. Kemudian majikanku berkata, “Inilah tempat tinggalmu.” Aku merasa senang dengan tempat yang luas serta suasana yang tenang dan indah. Kemahku berada di dataran tinggi yang dikelilingi oleh tumpukan jerami dan gandum. Dalam kemahku yang sederhana terdapat sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai dapur.

Pagi harinya, aku menunaikan shalat Subuh setelah terbangun dari tidurku yang pulas karena baru pertama kali melakukan perjalanan yang jauh.

Hari Pertama Mengembala

Pengembala kambing, ya tetap pengembala kambing. Aku tidak menyesal bekerja sebagai pengembala kambing lagi di negeri yang jauh dari negeriku. Meskipun di negaraku juga bisa mengembala kambing, tapi seperti yang aku katakan, cita-citaku ke Arab Saudi adalah menunaikan ibadah haji dan menghafal Al-Qur`an hingga 30 juz.

Aku memulai hari pertamaku bekerja. Aku lihat kambing gembalaanku satu persatu, lalu aku membiarkannya berjalan di depan, dan aku mengikutinya sambil membawa bekal untuk makan siang nanti. Aku tunggangi pungung kudaku dan berdoa seperti yang tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

“Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya “(QS. Az-Zukhruf: 13)

Debu-debu beterbangan dari bekas pijakan kaki kambing yang sedang berjalan dengan perlahan. Aku hidup di gurun, bukan di tanah subur yang mana seseorang bisa mengembalakan kambingnya dengan mudah. Memang butuh perjuangan yang hebat untuk mencari tempat pengembalaan kambing.

Dari kejauhan, sebuah kemah mulai terlihat. Kemah itu adalah tempat tinggal pengembala kambing yang juga bekerja dengan majikanku. Di sana ada beberapa orang yang tengah beristirahat. Sesampai di sana, setelah memperkenalkan diri kepada teman-teman dengan profesi yang sama, aku langsung berwudhu, lantas mengumandangkan azan untuk shalat Zuhur. Gema suara azanku terdengar di sekeliling kami. Setelah merasa aman karena kambing-kambing gembalaan berada tidak jauh dariku, maka aku mengerjakan shalat berjamaah. Setelah itu, aku meneruskan perjalananku yang jauh.

Dalam perjalanan, aku teringat akan keluargaku dan penduduk kampungku. Aku teringat pula waktu awal menghafal Al-Quran di negeriku. Yang paling kuingat adalah ucapan ayahku. Beliau berpesan agar aku menghafal Al-Qur`an hingga khatam. Aku berkata dalam hati, “Ini adalah kesempatan yang tak tergantikan dengan apa pun dan merupakan ‘harta rampasan’ yang didapat tanpa susah payah, karena aku tidak mempunyai kesibukan yang menghalangiku untuk melaksanakan pesan ayahku itu.”

Tatkala tiba waktu pulang, aku telah mengambil sebuah keputusan yang sangat penting, yaitu aku akan mulai menghafal Al-Quran selama di Arab Saudi ini, Insya Allah. Ya, aku akan menghafal Al-Qur`an. Aku bersyukur kepada Allah atas petunjuk-Nya dan atas waktu yang kosong ini. Lagi pula, pekerjaanku berada di luar kota yang jauh dari kebisingan. Walaupun kehidupan di sini sulit dan keras, tetapi aku merasa senang karena tidak ada waktu untuk bergunjing, mengadu domba, dan memfitnah orang lain. Suasana pekerjaanku sangat kondusif dan jauh dari semua hal-hal yang tidak berguna.

Kemudian aku pulang ke kemahku dengan kelelahan. Sebelum masuk kemah, domba dan kambing terlebih dahulu digiring menuju ke sumber air. Kemudian aku mengambil air wudhu dan mengumandangkan azan Maghrib di kemahku. Bersama teman-teman yang lain aku mengerjakan shalat maghrib berjamaah.

Inilah hari pertamaku kerja di negeri ini dan demikianlah hari-hariku yang lain, kecuali hari Jum’at; karena pada waktu itu aku melakukan shalat Jum’at.

Hari demi hari berlalu dan tibalah musim haji. Majikanku yang baik hati mengizinkanku pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Singkat cerita, setelah selesai, aku kembali ke tempat majikanku yang berada di wilayah timur negara Arab Saudi. Aku sudah berterus terang kepada majikanku bahwa tujuan utamaku ke Arab Saudi selain untuk bekerja adalah melaksanakan ibadah haji. Namun, dia menanggapinya dengan senyuman seraya berkata, “Bersabarlah sebentar, tinggallah beberapa bulan lagi di sini.”

Oleh karena itu, tidak ada hal lain lagi yang kuharapkan selain menuntaskan hafalan al-Quran. Maka dengan sungguh-sungguh aku membulatkan tekadku untuk itu. Aku selalu berusaha, bersabar, dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar memberikanku petunjuk-Nya untuk menghafal al-Quran sehingga akhirnya Allah Ta’ala memberikan karunia-Nya, yang mana aku dapat mengkhatam hafalan Al-Quran sekitar 10 bulan lebih semenjak datang ke Arab Saudi. Apakah engkau ingin mengetahui bagaimana aku bisa menghafal al-Quran?

Mulai Menghafal Al-Quran

Pada setiap pagi setelah shalat subuh aku menghafal ayat-ayat al-Quran sebanyak dua lembar. Setelah mengembala kambing, dan hendak pulang ke kemah, aku mengulang kembali hasil hafalanku yang kudapat pagi tadi, lalu hafalan itu diulang kembali pada keesokan harinya.

Keesokan harinya, sebelum berangkat menggembala kambing, aku mengulangi hafalanku yang kemarin. Apabila hafalanku yang kemarin itu sudah mantap, maka aku mulai menambah hafalanku dengan ayat-ayat yang baru. Hal yang sama juga aku lakukan ketika pulang ke kemah, yakni mengulangi kembali hasil hafalanku pagi tadi dan mengulang kembali hafalan hari ini pada keesokan harinya lagi. Adapun hari Kamis dan Jum’at aku khususkan untuk mengulang semua hafalanku.

Pada saat beristirahat, salah seorang temanku -yang menceritakan kisah ini kepada Syeikh Hamdan Hamud Al-Hajiri- bertanya sambil terheran-heran,  “Kamu tidak memiliki radio dan televisi. Kamu juga tidak membaca koran, lalu bagaimana kamu mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia. Kamu benar-benar terpisah dari dunia luar.”

Sambil membetulkan posisi duduk, aku katakan, “Sungguh, rasa khawatirku terhadap sesuatu menjadi berkurang. Pada waktu kosong ini, aku sibuk memeriksa penyakit kambing-kambingku atau menjahit bajuku yang sobek. Inilah kejadian-kejadian yang luar biasa bagi diriku. Adapun kabar terhangat adalah kabar yang disebutkan dalam firman Alah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sementara itu, peristiwa yang paling agung adalah peristiwa diutusnya para nabi beserta orang-orang beriman yang mengikutinya, bagaimana dakwah mereka dan cobaan yang menimpa mereka. Bagi saya, berita-berita yang ada koran dan majalah tidak begitu penting. Biarlah saya menyibukkan diri dengan kabar yang datang dari Tuhan yang disembah para makhluk di dunia ini.”

Pelajaran Yang Bisa Kita Petik Dari Kisah Ini

Subhanallah, sungguh kuat keinginan si pengembala kambing ini untuk mengisi hari-harinya dengan al-Quran. Kesibukan bekerja bukanlah sebuah alasan baginya untuk tidak menghafal al-Quran. Hal yang terpenting bagi kita adalah berniat sepenuh hati untuk menghafal al-Quran, lalu melaksanakannya, kemudian istiqamah (kosisten) menjalaninya.

Seharusnya, kecanggihan teknologi pada masa ini kita manfaatkan untuk menghafal Al-Quran. Pada masa dahulu, barangkali cuma ada kaset atau cakram padat (CD) yang bisa kita dengarkan untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran. Pada masa sekarang, banyak rekaman para qari Timur Tengah maupun dalam negeri dalam format MP3 yang bisa kita unduh dari situs resmi, lalu kita simpan dalam telepon genggam, sehingga bisa didengar kapan pun kita inginkan. Daripada mendengarkan musik yang hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama, lebih baik mendengar tilawah Al-Quran. Mengerti atau tidak maknanya, Anda sudah mendapatkan pahalanya.

Jangan terpengaruh oleh ucapan orang, “Untuk apa menghafal Al-Quran, toh kamu tidak mengerti.” Atau, “Yang penting adalah mengamalkan Al-Quran, bukan sekadar menghafalnya.”

Itu hanya ucapan orang-orang yang tidak mau menghafal Al-Quran. Dia tidak tahu bahwa membaca dan menghafal itu pintu pertama untuk mengerti dan mengamalkan Al-Qur`an. Bukankah waktu kecil dulu kita disuruh membaca dan menghafal bacaan shalat secara sempurna tanpa mengetahui maknanya sama sekali? Atau bahkan sebagian dari kita masih belum mengerti apa yang dia baca sampai sekarang?

Tunggu apalagi, marilah kita menghafal Al-Quran selagi hayat masih di kandung badan. Berusaha untuk menghafal Al-Quran dengan membacanya berarti kita memperbanyak satu ibadah lainnya, yakni menyeringkan bacaan Al-Quran. Banyak hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menganjurkan kita untuk membaca Al-Quran, di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, yang mana dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.”
(HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan yang lain.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya (kepada orang lain).”
(HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).

Semoga kita termasuk orang-orang yang gemar membaca Al-Quran, memahami maknanya, menghayatinya, mengamalkannya, menghafalnya, lalu mengajarkannya.*/ Yumroni Askosendra

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/13/7262/kisah-penggembala-kambing-yang-hafal-al-quran.html

Dipublikasi di Hafalan Al-Qur'an | Tinggalkan komentar

Tips Menghafal Surat At-Takwir sd At-Tariq

Agar lebih mudah saat menghafal surat At-Takwir sd At-Tariq, silahkan diingat2 pada ayat pertamanya (ayat ke-1), karena hampir mirip pada masing-masing surat (kecuali untuk surat At-Tatfif). Bila diawal surat sudah benar, Insya Allah kesananya benar. Karena ingatan kita akan mengikuti sesuai dari ayat pertamanya. Ayat2nya adalah sbb:

  • At-Takwir

  • Al-Infitar

  • At-Tatfif (Al-Muthaffifin)

  • Al-Inshiqaq

  • Al-Buruj

  • At-Tariq

Semoga postingan ini bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.

Dipublikasi di Hafalan Al-Qur'an | Tinggalkan komentar

Sudah Sempurna

Tidak ada lagi kekurangan, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Tidak ada perintah yang diragukan, dan tiada lagi larangan yang dipertimbangkan.

Tiada celah lubang yang perlu ditambal, namun Anda tetap dapat menghiasi temboknya dengan ilmu lainnya.

Sebab semua sudah sempurna, dari zaman Rasul hingga akhir zaman nanti.

Wahai sahabat,

Barang siapa yang berani melanggar aturan-aturan Allah SWT dan mengerjakan hal-hal yang diharamkan, maka ketakutan adalah obatnya.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan dan mencintai amal sholeh, maka harapan adalah pendorong terkuat baginya.

Setiap kali seorang hamba merasakan dekat dirinya dengan Allah SWT, maka dia akan merasa ringan dan yakin menghadapi dunia ini.

Sesungguhnya agama Islam ini indah, mudah aplikasinya, gampang dicerna, ringan diamalkan oleh orang yang beriman. 

Syariat yang bercirikan kemudahan, kerapihan dan kebersihan.

Didalamnya tidak terkandung hal-hal yang menyulitkan dan memberatkan, sebab Yang Maha Kuasa tidak mungkin memberikan beban diluar kemampuan manusia itu sendiri.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.Al Maa-idah:3)

Alhamdulillah, tidak ada kebaikan dan kemanfaatan kecuali datangnya dari Allah SWT.

Terima kasih ya Allah ya Kariim…

Dipublikasi di Catatan Hati | Tinggalkan komentar

Berputar


Sebagian orang menghabiskan umur mereka untuk mengkaji, menghasilkan karya, mengumpulkan pengetahuan, mengoleksi benda diluar kemampuan, menggandrungi hoby secara berlebihan dan menghimpun harta akan tetapi mereka lupa untuk beramal saleh.

Sebagian orang tersebut adalah orang yang percaya dengan keadaannya yang tergadaikan baik berupa harta, waktu, kesehatan, kedudukan dan kehormatan.

Mereka lupa dengan perputaran hari, nikmatnya udara subuh, pergantian malam, kehebatan kitabullah, keajaiban-keajaiban zaman, sehingga Anda mendapatinya mereka adalah orang yang terpersona dengan permainan dan larut dalam kelalaiannya. Padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

Mereka tidak menyadari bahwa semua akan berputar, seperti matahari, bulan, bumi demikian juga semua yang ada di bumi ini. Berputar dari malam ke pagi, dari pagi ke siang, dari bayi menjadi baligh, dari muda ke renta, dari tunas menjadi pohon, dari hidup menjadi mati, dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada.

Barang siapa membaca Al Qur’an, maka akan mendapati didalamnya ketakwaan, pujian terhadap ilmu yang bermanfaat, anjuran menginfakan harta yang sesuai dijalan-Nya yang disertai dengan keikhlasan.

Orang yang tidak memburu waktunya dengan ibadah yang baik, maka akan kehilangan kebaikan dan keadaanpun akan berubah baginya.

Orang yang tidak berbuat dermawan kepada manusia dengan hartanya, dia akan bersedih ketika fakirnya.

Orang yang tidak mengisi waktu luangnya dengan mempelajari kalam illahi, dia akan menangis ketika di akhir hidupnya.

Orang yang tidak memberikan manusia manfaat dengan kemuliannya, dia akan menyesal ketika tidak dikenal lagi.

Maka bersegeralah, bersegeralah melakukan kebaikan dan berlombalah untuk berbuat kebajikan, memberi manfaat kepada para hamba sebelum berputarnya zaman, bergantinya keadaan, berubahnya waktu. Karena kita saat ini sedang berputar, dan menanti putaran selanjutnya yang akan Allah berikan kepada kita.

Dipublikasi di Catatan Hati | Tinggalkan komentar